2014, TAHUN ISTIMEWAKU
TAHUN CANTIK, TAHUN PUNCAK
Bulan
Desember istimewa. Bulan hujan yang tak menentu ini selalu membawa pada review
tahunan dengan kesan-kesan tersendiri. Beda tahun, beda kesan. Jika tahun-tahun
sebelumnya banyak diselimuti dengan peristiwa-peristiwa kelabu,s maka tidak
tahun ini. Bukan berarti tanpa ujian, cobaan dan godaan. Melainkan banyak hal
yang terhandle dengan rapi walau harus melalui banyak kesulitan. Terutama soal
pekerjaan.
Pekerjaan
bulan ini sebagai illustrator dan desainer grafis menjadi warna baru akhir
tahun. Pekerjaan impian yang lumayan bisa dibanggakan. Juga penulis yang sudah
9 bulan ini sudah kujalani. Tulisan yang dimuat di harian Joglosemar dengan
fotoku di dalamnya membuatku merasa luar biasa. Walau ditayangkan mingguan,
menurutku itu pencapaian yang tak mungkin aku remehkan. Aku tak bisa
mencapainya sendirian. Tidak bisa dibilang terkenal, tapi untuk pencapaian diri
yang baru saja kerja di kantor 1,5 tahun ini memang prestasi yang lumayan bisa
bikin bangga ortu. Entah mereka bangga atau tidak, aku sudah menunjukkan bahwa
aku bisa maju dan berkembang. Aku tak mau berpangku tangan dan membiarkan
diriku hanya bisa mengerjakan tugas kerumahtanggaan. Karena aku merasa mampu
menjalankan keduanya.
Secara
emosi, aku masih banyak belajar. Berusaha terus memperbaiki apa yang seharusnya
menjadi baik. Bukan yang paling baik diantara semua. Tapi lebih baik dari
hari-hari yang sudah terlewati. Emosi saat mendidik anak, berkomunikasi dengan
pasangan, partner kerja, saat mengajar di kelas, berkoordinasi dengan tutor,
bermasyarakat dan dengan orangtua. Dari sekian hal, masih saja orangtua yang
menjadi masalahnya. Dengan apa yang sudah diperlihatkan orangtua di depanku,
aku menyimpulkan bahwa aku tak berhak memaksa mereka berhenti memanjakan dan
memberi suplai bantuan ke orang-orang yang mereka kehendaki. Tapi, jika aku
mendapat rezeki lebih banyak ketimbang orang-orang itu, mereka tidak boleh iri.
Aku berusaha yang terbaik agar Tuhan juga memberikan yang lebih baik. Dan, Tuhanpun
memberi anugrah luar biasa yang tak pernah aku sangka. Terimakasih dan puji
syukurku ke hadiratMu, Tuhan.
Secara
manajemen rumahtangga, lagi-lagi masih belajar membiasakan diri untuk teratur,
rapi, dan terkelola dengan baik. Belum baik 100% karena faktor waktu dan energi
yang harus dibagi dengan pekerjaan di kantor. Aku sebisa mungkin tidak membawa
pekerjaan kantor ke rumah. 8 jam kerja, 8 jam keluarga, dan 8 jam untuk
istirahat. Total 24 jam. Soal kebersihan yang pernah dipermasalahkan mertua,
alangkah baiknya saling memahami dan memaklumi. Kami sama-sama kerja. Aku
sendiri masih butuh mengisi tabunganku karena masih termasuk karyawan baru di
perusahaan yang masih baru juga. Rasanya tak bijak jika aku harus bayar orang
untuk bersih-bersih rumahku sendiri. Biarlah kami saja yang bereskan dan
bersihkan. Hikmahnya, ada latihan kerjasama, tanggungjawab dan kebersamaan
dalam keluarga. Dan, proses membiasakan itu butuh waktu. Aku paham mertuaku
punya tipe perfeksionis. Beliau suka kerapian, keteraturan, suka mengkritik
tapi tak suka dikritik, dan kaku. Sampai kapanpun takkan berubah. Overall,
rumah ini sudah sangat nyaman bagiku walau masih saja ada kurangnya. Kesyukuran
yang besar sudah menutupi apa yang belum bisa dijangkau saat ini.
Tentang
rumah ini, masih dengan konsep etnik bertumbuh. 7 tahun tinggal di rumah hasil
rancanganku sendiri, rumah ini tetap dingin, sejuk, rindang, dan berkesan
alami. Belakangan lumut meluas ke segala penjuru tembok bata tanpa plesteran,
terutama outdoor. Kamar belakang belum berfungsi dengan baik. Butuh kerjasama
untuk memfungsikannya kembali agar nyaman digunakan kamar tidur Momo. Semoga
sertifikasi segera terealisasi. Agar tersedia dana pembangunan di luar dana
aman. Renovasi besar akan kami lakukan demi kenyamanan tinggal yang maksimal.
Tentunya itu menjadi idaman setiap keluarga, terutama keluarga muda seperti
kami. Dan tahun ini, kami sudah memproklamirkan diri untuk berperang dengan
para tikus. Betapa liarnya mereka saat penghuni tak di rumah. Semuanya
berantakan. Makanan dicuri. Kabel dikerat. Baju dilubangin. They’re really big
enemies!
Soal
hubungan asmara, apa harus dibahas? Entah angin apa yang membawa para mantan
datang menyapa. Mereka yang dulu putus sama aku, tiba-tiba mengetuk pintu
kehidupanku lagi. Bukankah kehidupan mereka saat ini dengan pasangan mereka
masing-masing adalah pilihan pribadi tanpa paksaan siapapun? Bahkan mereka
meninggalkanku begitu saja dan begitu mengganjal tanpa ada kata-kata negoisasi
yang layak sebagai mantan terhormat. Ada yang minta pin BB, minta maaf, minta
ketemuan, mengajak makan di luar, dan ajakan-ajakan nista yang tak sehat. Itulah
barisan para mantan yang sepertinya mengalami titik bawah dalam berumahtangga.
Mungkin benar quote lucu populer di dunia maya : “Di balik cewek sukses, ada
mantan yang kecewa”. Tapi, aku berniat untuk mengurangi sedikit demi sedikit
perhatian aneh mereka. Perhatian semu yang bisa menghancurkan semua yang sudah
kubangun dengan susah payah. So, aku harus lebih cuek dan hati-hati tanpa
menyakiti. Maaf, ya mantan.
Soal
kesehatan, tahun ini belajar lebih memperhatikan pola makan. Gaya hidup dan
kebiasaan yang sekiranya tak sehat sudah dimengerti tinggal dilaksanakan.
Semudah itu? Enggak! Faktor pekerjaan, stress, waktu dan peran ganda menjadi
kesulitan tersendiri dimana keadaan tak bisa disalahkan. Walau awal tahun
didahului dengan penyakit cacar air yang baru sekali itu menjangkitiku, tapi
tahun ini lebih sehat ketimbang tahun sebelumnya. Ada rekor baru dengan
fisikku. Berat badanku naik 5 kg. Untuk posturku yang sedari kecil sampai kena
cacar air di usia 30 tahun, masih sangat kurus, itu pencapaian mengejutkan!
Lingkar tubuh bertambah. Pipi berisi. Dan berat badan ideal hampir tercapai.
Tahun ini memang tahun cantik. Setelah postur tubuhku berisi, banyak kenalan,
ibu siswa lama, keluarga dan bahkan penjual langganan bilang “Tambah cantik ya!
Kelihatan lebih seger, deh!”. Dan, itu
prestasi membanggakan. Aku sendiri nggak percaya akan punya tubuh yang berisi
dan ehemm seksi gini.
Tentang
masadepan, tentunya semakin banyak harapan. Lantaran banyak jalan yang sedikit
demi sedikit terlihat semakin jelas, aku memutuskan tetap berkarya. Sambil
mengembangkan diri, terus belajar, meningkatkan kemampuan dan openminded. Aku yakin aku bisa mencapai
lebih dari yang sekarang tercapai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar